Sekolah Tatap Muka Mulai Juli 2021, Simak Ketentuannya!

SDN 09 PPA ini merupakan sekolah pertama dan percontohan yang menerapkan pembelajaran tatap muka langsung di Kota Solok. Uji coba pembelajaran tatap muka langsung ini, akan dilaksanakan selama satu minggu dari tanggal 20 hingga 25 Juli 2020. Solok, Gatra.com – SDN 09 Pasar Pandan Air Kota Solok, Sumatera jadi sekolah percontohan pendidikan tatap muka dengan meberlakukan protokol kesehatan dengan cek suhu tubuh, cuci tangan, dan memasang sekat di setiap meja siswa. Dia menegaskan, tidak akan mengizinkan anaknya ikut belajar tatap muka di sekolah jika dipaksakan dimulai pada Januari 2021. Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Brawijaya Aulia Luqman Aziz bahwa selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi.

Anak-anak pun diminta belajar di rumah dan melakukan pembelajaran secara online. Begitu juga kesiapan ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun, baru 65% sekolah yang menyatakan memiliki fasilitas tersebut. “Kami minta sarana dan prasarana, serta skema pelaksanaan PTM harus sudah selesai, seperti tempat cuci tangan hingga pengaturan tempat duduk di dalam kelas,” katanya. Masing-masing wilayah bisa menerapkan sesuai tingkat zonasi penyebaran covid-19. “Sebenarnya yang belum kita persiapan dari pemerintah, dalam hal kemendikbud itu skenario untuk pembukaan sekolah pada bulan Juli. Jadi enggak bisa kita mengatakan diserahkan ke daerah, itu enggak bisa,” terang dia. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Unifah Rosyidi menyambut positif goal pemerintah membuka sekolah pada Juli 2021.

Tatap muka bagi anak SD

Satuan pendidikan wajib memenuhi daftar periksa sebelum memulai layanan PTM. Dan, parahnya lagi, dampak dari kebingungan anak-anak itu mengakibatkan malasnya mereka ke sekolah dan dibuktikan oleh standing Whatsapp gurunya hari ini yang mengeluhkan makin hari Slot Online Terpercaya makin sedikit berkurang anak-anak yang masuk sekolah. Bisnis.com, JAKARTA – Setelah lebih dari setahun pandemi Covid-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan seluruh sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka mulai Juli 2021.

Misalnya, siswa cukup datang ke sekolah 2 sampai 3 kali seminggu selama three sampai four jam. Penyelenggara sekolah pun harus menerapkan bodily distancing dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas. Menurut dia, persiapan pembelajaran tatap muka di SD dan SMP di Kota Yogyakarta sudah dilakukan sejak Desember 2020, khususnya persiapan sarana dan prasarana pendukung protokol kesehatan. Siswa akan dibagi dalam tiga shift per kelas dan tiap pertemuan dilakukan maksimal dua jam pelajaran atau ninety menit. Sebelumnya, sekolah sudah harus memastikan seluruh sarana dan prasarana pendukung protokol kesehatan tersedia. Akibat ditutupnya sekolah memaksa pemerintah untuk menjalankan proses pembelajaran jarak jauh guna mengurangi penyebaran Covid-19 dan juga pendidikan tetap berjalan.

Ditambah lagi, perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda. Saat pulang sekolah, akan ada dua pintu gerbang yang akan dibuka untuk mengurai keramaian,” beber Umi Kulsum. Jika terpaksa harus melepas masker, usahakan untuk tetap memakai face shield,” sambungnya. Tetap tujuannya yaitu untuk menekan penyebaran virus Covid-19 dengan melaksanakan aksi menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

SDLB, MILB, SMPLB, MTsLB dan SMLB, MALB jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal lima peserta didik per kelas. SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, SD, MI dan program kesetaraan jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas. Penggunaan protokol kesehatan lainnya dalam lingkungan sekolah seperti kegiatan di kantin, olahraga, serta ekstrakurikuler juga tidak diperbolehkan untuk dua bulan pertama pembukaan sekolah. “Jadi apa yang kita lakukan dalam protokol kesehatan itu cuma mencegah terjadinya penularan dengan kontak langsung dan tidak langsung. Yang harus diperhatikan, jangan sampai orang menghirup atau terpercik droplet orang lain terutama di ruang kelas,” kata Reisa.

Selama proses pembelajaran daring yang dilakukan, guru dan murid banyak mengalami kendala seperti ketersediaan software program dan hardware yang dibutuhkan selama pembelajaran berlangsung. Tidak semua teknologi yang dimiliki oleh guru dan murid mumpuni di antaranya keunggulan ataupun teknologi yang dimiliki gawai tersebut, dan lemahnya jaringan web yang menjamin akan kelancaran sistem pendidikan daring bagi daerah terpencil. Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Evy Mulyani menyebutkan, pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap dengan syarat 30–50 persen dari standar peserta didik per kelas. SD, SMP, SMA, dan SMK dengan standar awal 28–36 peserta didik per kelas menjadi 18 peserta didik.

Bahkan lebih jauh para siswa juga akan sulit mengembangkan nilai-nilai karakter dan kecakapan hidup selama KBM daring karena sebagain besar aktivitas dilakukan hanya dari rumah dan tidak terjadi interaksi secara alami seperti di sekolah. Selain itu dalam KBM daring akan selalu menggunakan gawai dan koneksi internet yang tentu saja akan sangat rentan membuat para siswa menjadi tidak fokus. Misalnya jika tidak ada yang mengawasi si anak akan bermain game, menonton YouTube dan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Hal ini tentu sangat membantu bagi para guru dan murid yang berada di wilayah 3T atau belum terjangkau jaringan internet. Kendala gawai juga bisa teratasi dengan memanfaatkan sumber belajar konvensional seperti buku, LKPD dan APE yang lebih mudah dan terjangkau untuk dimanfaatkan. Hal ini tentu karena saat KBM daring berlangsung proses komunikasi hanya terjalin melalui video name atau chat saja.

Sedangkan, vaksinasi dosis kedua pada setiap tahap akan dilaksanakan sesuai dengan jenis vaksin dan interval yang telah ditetapkan. Menghadapi pandemi ini, ada tiga opsi yang ditawarkan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, yaitu tetap mengacu ke kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat , dan menyederhanakan kurikulum secara mandiri. Semua ini dikembalikan ke sekolah untuk menggunakan opsi yang mana tergantung dengan keadaan murid dan situasi di daerah masing-masing. Dan, biasanya anak-anak akan membawa setumpuk tugas yang tidak selesai mereka kerjakan karena kurangnya waktu. Seperti yang dikeluhkan anak pertama saya yang duduk di Kelas X, “Belajar di sekolah ternyata nggak lebih mengerti dibandingkan daring. Tugasnya banyak terus gurunya menjelaskan terlalu cepat karena waktunya dipangkas.” “Pendidikan dan kesehatan, kedua sektor ini merupakan investasi bangsa yang besar untuk 10, 20, sampai 30 tahun ke depan. Saya merasa sangat terharu dan mendukung agar proses pembelajaran ini kembali seperti regular.